BRMP SDLP Gelar Workshop Teknologi Geospasial untuk Percepatan Swasembada Pangan
Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Sumber Daya Lahan Pertanian (BRMP SDLP) menggelar workshop bertajuk "Teknologi Sumber Daya Lahan Mendukung Swasembada Pangan" yang diikuti lebih dari 1.000 peserta secara nasional melalui daring. Kepala Balai Besar BRMP SDLP, Asdianto, menjelaskan bahwa workshop ini dilatarbelakangi oleh Instruksi Presiden Nomor 14 dan 16 Tahun 2025 terkait penguatan swasembada pangan, serta urgensi percepatan program strategis Kementerian Pertanian di tengah perubahan iklim dengan tujuan meningkatkan kapasitas penyuluh pertanian dalam memanfaatkan teknologi geospasial untuk perencanaan, monitoring, dan pelaporan program strategis pertanian nasional.
Dalam sambutannya, Sekretaris BRMP, Husnain menegaskan bahwa BRMP telah bertransformasi dari badan litbang menjadi integrator teknologi yang hadir langsung di lapangan, didukung 69 unit organisasi, 4.617 hektar kebun percobaan, dan 3.723 profesional dari berbagai disiplin ilmu.
Narasumber pertama, Adib Hasanawi dari BRMP SDLP, menjelaskan bahwa data geospasial bukan sekadar foto berkoordinat, melainkan representasi lokasi yang akurat dalam bentuk titik, garis, dan poligon. Banyak petunjuk teknis program bantuan pertanian kini mensyaratkan data poligon untuk penetapan calon petani dan calon lokasi (CPCL), sehingga penyuluh sebagai garda terdepan harus mampu menyajikan data yang informatif dan memenuhi standar teknis.
Untuk memudahkan penyuluh di lapangan, BRMP SDLP memperkenalkan dua aplikasi mobile gratis melalui paparan dua narasumbernya. Gunawan Saputra memaparkan pemanfaatan Field Area Measure, aplikasi berbasis GPS yang memungkinkan pengukuran luas lahan, jarak, dan koordinat secara real-time dengan kemampuan ekspor data dalam format standar (SHP, KML, KMZ). Sementara itu, Gandang Andira memperkenalkan Avenza Maps, aplikasi pemetaan offline yang cocok digunakan di daerah terpencil dengan sinyal terbatas, memungkinkan pengguna mengimpor peta dasar berformat PDF serta melakukan pengukuran, penandaan lokasi, dan pelacakan jejak tanpa koneksi internet.
Sesi diskusi yang dipandu oleh Fransiscus Benhardi Wastuwidya mengangkat berbagai kendala praktis seperti area dengan sinyal lemah, kanopi pohon yang mengganggu akurasi GPS, serta kebutuhan data dasar seperti Luas Baku Sawah. Para narasumber memberikan solusi adaptif, termasuk penggunaan peta offline dan metode pengukuran alternatif. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan sinergi teknologi, data akurat, dan kapasitas SDM di lapangan, dapat mewujudkan pertanian Indonesia yang modern dan berkelanjutan.